1.Yang dimaksud bahn pembelajaran cetak adalah perangkat bahan yang memuat materi atau isi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dituangkan dengan menggunakan teknologi cetak. Bahan pembelajaran cetak memuat materi yang berupa ide, fakta, konsep, prinsip, kaidah atau teori yang tercakup dalam mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmunya serta informasi lainnya dalam pembelajaran.
2.Karakteristik bahan pembelajaran cetak adalah :
a.Mampu membelajarkan sendiri para siswa (self-instructional)
Artinya bahan ajar cetak harus mempunyai kemampuan menjelaskan yang sejelas-jelasnya untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran, baik dalam bimbingan guru maupun secara mandiri.
b.Bahan ajar cetak bersifat lengkap (self – Contained)
Artinya memuat hal-hal yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.
c.Mampu membelajarkan peserta didik (self-instructional material )
Artinya dalam bahan pembelajaran cetak harus mampu memicu siswa untuk aktif dalam proses belajarnya bahkan membelajarkan siswa untuk dapat menilai kemampuan belajarnya sendiri.
3.Macam-macam bahan pembelajaran cetak yang dapat digunakan di SD.
a.Modul
Modul merupakan suatu paket belajar yang berkenaan dengan satu unit bahan pelajaran atau sebagai suatu unit program pembelajaran terkecil.
b.Handout
Handout diartikan sebagai buku pegangan siswa yang berisi tentang suatu materi pelajaran secara lengkap.
c.Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS merupakan bahan pembelajaran cetak yang paling sederhana karena komponen isinya bukan pada materi ajar tetapi pada pengembangan soal-soal dan latihan.
4.Langkah-langkah pengembangan bahan cetak
a.Menyusun garis-garis besar Program Pembelajaran (GBPP)
Bahan ajar tercetak yang akan dikembangkan GBPP memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, pokok bahasan, sub pokok bahasan, estimasi waktu dan daftar pustaka yang akan digunakan.
b.Menulis bahan ajar dengan mengikuti strategi intruksional tertentu.
Prinsip penulisannya sama halnya dengan prinsip pengajaran biasa, perbedaannya adalah bahas ayang digunakan bersifat setengah formal dan setengah lisan.
c.Mereview, melakukan uji coba lapangan dan merevisi bahan ajar sebelum diguankan di lapangan.
JAWABAN TUGAS INISIASI 4
1.Komputer
Adalah merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan respon yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa.
2.Unsur-unsur yang ada dalam multimedia
-Audio
-Vidio
-Pemeran
-Objek yang dibahas
3.CD Interaktif
-IPA itu asyik
Oleh : Prof Yohanes Surya, Ph.D
PT. TRISULA ADISAKTI
Jl. BALADEWA 185 F Jakarta
4.Pengetahuan tentang Makhluk Hidup, Benda, Bumi dan sekitarnya.
Alasan : Menyajikan tentang kehidupan di bumi dan alam sekitarnya.
5.Pengalaman
- Dalam proses pembelajaran lebih mengena (anak lebih cepat memahami) karena lebih menarik dalam penyajian yang berupa Audio dan Vidio. (Siswa langsung melihat dan mendengar)
JAWABAN TUGAS INISIASI 5
1.Internet merupakan sebuah perpustakaan besar yang didalamnya terdapat jutaan (bahkan milyaran) informasi atau data yang berupa text, graphic, audio maupun animasi, dan lain-lain dalam bentuk media elektronik.
Internet merupakan sarana yang sangat efisien dan efektif untuk melakukan pertukaran informasi jarak jauh maupun didalam lingkungan perkantoran maupun pendidikan.
Fungsi atau manfaat internet adalah :
1. Akses ke sumber informasi
Akses ke pakar
Media kerjasama
2.Fungsi Browser adalah untuk mencari data yang kita inginkan dari mesin pencari data.
Untuk mengakses layanan word wide web dari sebuah komputer.
3.Praktek cara menggunakan mesin pencari sudah dilaksanakan.
TUGAS PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
OLEH SRI MUNDIASIH
NIM 282009077
KELAS C BATANG 3
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Judul:Meningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Perpindahan Energi Panas dengan Metode Demonstrasi Menggunakan Alat Peraga Pada Kelas IV SDN Kasepuhan 05 Batang Tahun 2009/2010
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB XI Pasal 40 ayat (2) yakni pendidik harus profesional untuk menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang bermakna, kegiatan pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan guru agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik antara lain : memilih metode, strategi dan model pembelajaran yang sesuai sehingga dapat menemukan model yang paling sesuai bagi dirinya. Apabila guru telah menemukan model strategi, metode yang tepat dan sesuai bagi dirinya dan anak didik, maka suasana pembelajaran menjadi lebih kreatif, dinamis, tidak monoton dan menyenangkan sehingga dapat memberikan rasa puas bagi anak didik. Dampak selanjutnya pemahaman terhadap konsep-konsep IPA yang dipelajari anak didik menjadi lebih bermakna, lebih kuat dan berdaya guna sehingga hasil belajar anak didik menjadi lebih baik.
Hal tersebut juga sesuai dengan salah satu tujuan mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan sikap dan nilai-nilai ilmiah serta lebih memperhatikan tahap perkembagnan siswa. Pembelajaran IPA yang dikehendaki oleh kurikulum ini sesuai dengan hakikat IPA, yaitu sebagai produk ilmiah, proses ilmiah, serta sebagai sikap ilmiah.
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional dan tujuan mata pelajaran IPA seorang pendidik harus kreatif dan inovatif untuk menyajikan proses pembelajaran di kelasnya agar proses pembelajaran yang dikelolanya berjalan luwes, efektif dan efisien. Karena pendidikan atau sekolah mempunyai harapan agar peserta didik memperoleh nilai yang memuaskan sesuai KKM dan juga memiliki prestasi yang menonjol pada semua mata pelajaran.
Namun pada kenyataannya menunjukkan bahwa pada umumnya guru mengajar masih secara tradisional. Pengajaran IPA masih bersifat verbalistik dan pasif. Alat peraga IPA jarang digunakan, pembelajaran berpusat pada guru, siswa hanya sebagai penerima pelajaran yang pasif. Hasil yang diperoleh peserta didik tidak sesuai dengan harapan pendidik. Sebagai contoh pembelajaran IPA Kelas IV SD Negeri Kasepuhan 05 Batang tentang perpindahan energi panas hasilnya masih rendah. Setelah diadakan tes formatif ternyata nilai yang diperoleh peserta didik masih di bawah standart yaitu 65 % dari jumah peserta didik (29 anak) hanya 18 siswa yang mendapat nilai di atas 75 sedangkan 11 siswa hasil perolehan nilai belajarnya masih memprihatinkan.
Kenyataan inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang penulis beri judul ”MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG PERPINDAHAN ENERGI PANAS DENGAN METODE DEMONSTRASI MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA KELAS IV SD KASEPUHAN 05 BATANG TAHUN 2009/2010”.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka perumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1.Apakah dengan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang perpindahan energi panas ?
2.Apakah dengan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam belajar IPA tentang perpindahan energi panas ?
3.Apakah dengan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar IPA tentang perpindahan energi panas ?
C.Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA tentang perpindahan energi panas dengan menggunakan metode demonstrasi.
Tujuan khusus penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan minat siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas dengan metode demonstrasi. Sehingga dihasilkan proses pembelajaran yang kreatif, aktif, inovatif dan menyenangkan.
D.Manfaat Penelitian
Hasil yang diperoleh dari penulisan ini diharapkan memiliki kegunaan sebagai berikut :
a.Bagi Siswa
1.Agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.Siswa menjadi lebih aktif.
3.Dapat menumbuhkan minat belajar siswa.
b.Bagi Penulis
Dengan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini penulis memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman tentang Penelitian Tindakan Kelas, khususnya tentang penggunaan metode dan media yang tepat.
Penulis mampu mendeteksi permasalahan yang ada di dalam proses pembelajaran, sekaligus mencari alternatif/solusi yang tepat. Selain itu penulis mampu memperbaiki proses pembelajaran di dalam kelas dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa.
c.Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan ataupun acuan dalam pembelajaran IPA bagi guru yang mengalami masalah serupa.
d.Bagi Lembaga/Institusi
1.Sebagai masukan bagi guru SD bahwa pembelajaran IPA perlu metode dan media secara tepat.
2.Bagi sekolah, sebagai sumbangan pemikiran dalam usaha-usaha yang mengarah pada peningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA.
3.Bagi sekolah, sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara menyeluruh. PTK juga dapat memberi sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah yang bercermin dari peningkatan kemampuan profesional para guru.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Landasan Teori
Hasil Belajar
Hasil belajar atau yang disebut prestasi belajar dalam penelitian ini adalah berupa angka-angka tertentu yang tercatum dalam nilai raport, prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan. Selanjutnya Winkel (2004 : 162) menyatakan prestasi adalah bukti keberhasilan yang telah dicapai, belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif. Secara singkat belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman (damandiri.or.id).
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktifitas belajar (Anni, 2004 : 4).
Hasil belajar adalah bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif) yang terdiri atas unsur kognitif, efektif dan psikhomotorik secara terpadu terhadap diri siswa (Dimyati, 1991 : 2).
Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum pengertian hasil belajar yaitu bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif) yang terdiri dari unsur kognitif, efektif dan psikhomotorik secara terpadu terhaap diri siswa setelah mengalami aktifitas belajar.
Teori Keaktifan Siswa
Keaktifan adalah kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar (Anni, 2004 : 52).
Keaktifan adalah keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasinya (Mutohir dkk, 1996 : 4).
Menurut Ardhana (2009) keaktifan siswa dapat dilihat dari :
a.Perhatian siswa terhadap penjelasan guru.
b.Kerjasama dalam kelompok.
c.Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok ahli.
d.Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok asal.
e.Memberi kesempatan berpendapat pada teman dalam kelompok
f.Mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat.
g.Memberi gagasan yang cemerlang.
h.Membuat perencanaan dan pembagian tugas yang matang.
i.Keputusan berdasarkan pertimbangan kelompok lain.
j.Memanfaatkan potensi anggota kelompok.
k.Saling membantu dan menyelesaikan masalah.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian keaktifan secara umum adalah kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasinya untuk mencapai hasil belajar. Sedangkan keaktifan siswa dapat dilihat dari peran aktif siswa secara individu maupun dalam kelompok pada proses pembelajaran.
Minat Belajar Siswa
Secara bahasa minat berarti ”kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu” minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.
Sardiman A.M berpendapat minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Minat adalah keinginan yang tumbuh karena adanya dorongan dari luar atau dari dalam diri seseorang (Anni, 2004 : 56).
Minat adalah keinginan yang tumbuh karena adanya dorongan dari dalam diri seseorang yang dapat menimbulkan aktifitas belajar dalam mencapai tujuan (Mustofa, 2001 : 87).
Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan pengertian minat yaitu keinginan yang tumbuh karena adanya dorongan dari luar atau dari dalam diri seseorang yang dapat menimbulkan aktifitas belajar dalam mencapai tujuan.
Teori tentang Metode Demonstrasi
Secara bahasa metode adalah cara yang tersusun dan teratur, untuk mencapai tujuan, khususnya dalam ilmu pengetahuan.
Cardille (1986) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan sebuah tindakan atau prosedur yang digunakan. Metode ini disertai dengan penjelasan, illustrasi, dan pernyataan lisan (oral) atau peragaan (visual) secara tepat (dalam Canei, 1986 : 38).
Winarno mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980 : 87). Batasan yang dikemukakan Winarno memberikan kepada kita, bahwa untuk mendemonstrasikan atau memperagakan tidak harus dilakukan oleh guru sendiri dan yang didemonstrasikan adalah suatu proses.
Dengan memperhatikan batasan metode demonstrasi seperti yang dikemukakan oleh Cardille dan Winarno, maka dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar mengajar yang sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh siswa atau sebagian siswa.
B.Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian (T. Widiastuti) 2007 tentang peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA tentang Sistem Peredaran Darah Manusia dengan metode demonstrasi, menggunakan alat peraga. (PTK Pembelajaran IPA Kelas V).
C.Kerangka Berpikir
Kajian pustaka dan landasan teori dari para pakar juga beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti memberi gambaran penulis untuk membuat skema tindakan dalam penelitian ini. Bagi sebagian besar siswa hasil belajar yang diperoleh pada pembelajaran IPA tentang perpindahan energi panas masih rendah. Oleh karena itulah diperlukan upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila guru menggunakan metode demonstrasi dengan bantuan alat peraga, maka hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA tentang perpindahan energi panas akan meningkat. Hal ini dilakukan dalam proses perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas dalam dua siklus. Tindakan tersebut apabila dituangkan dalam bentuk skema akan dapat tergambar seperti di bawah ini.
D.Hipotesis Tindakan
Kerangka berpikir sebagaimana telah diuraikan di atas mengandung praduga bahwa penggunaan metode demonstrasi dengan bantuan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar, keaktifan dan minat siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas kelas IV SD Negeri Kasepuhan 05, Kecamatan Batang.
Dari praduga tersebut penulis mengajukan hipotesis. Hipotesis ini yaitu :
Dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang perpindahan energi panas.
Dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga dapat meningkatkan keaktifan siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas.
Dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga dapat meningkatkan minat siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Kasepuhan 05 Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari 2010 yaitu pada awal semester dua tahun ajaran 2009/2010 sesuai materi yang diajarkan pada semester tersebut.
Siswa kelas IV SD Kasepuhan 05 berjumlah 29 siswa. Terdiri dari 11 perempuan dan 18 laki-laki. Siswa kelas IV cukup beragam tingkat kemampuan prestasi belajarnya. Dari 29 siswa hanya 20 % yang mempunyai kemampuan cukup baik, selebihnya kemampuannya di bawah rata-rata. Motivasi belajar anak di rumah kurang dikarenakan tingkat pendidikan orang tua rendah dan keadaan ekonomi yang pas-pasan.
Latar belakang dipilihnya kelas ini sebagai tempat penelitian adalah karena alasan berikut ini :
a.Sesuai dengan materi dan pokok bahasan yang ada.
b.Peneliti adalah guru di kelas tersebut. Hal ini memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian.
c.Berdasarkan penelitian selama semester 2, hasil belajar IPA tentang perpindahan energi panas masih rendah. Hal ini perlu segera diupayakan peningkatannya.
d.Penggunaan metode demonstrasi dengan alat peraga diupayakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Sesuai dengan masalah yang dikemukakan, sasaran kajian dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas. Upaya peningkatkan hasil belajar, keaktifan dan minat siswa dilakukan dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga.
B.Variabel Penelitian
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data utama dan data pendukung. Sebagai sumber data utama adalah guru dan siswa kelas IV SD Negeri Kasepuhan 05 Kecamatan Batang, Kabupaten Batang tahun ajaran 2009/2010. Data juga berasal dari studi pustaka terhadap buku-buku nilai siswa. Adapun data pendukung diperoleh dari teman sejawat yang telah bersedia menjadi observer.
Dua hal yang menjadi objek penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas juga disebut variabel independen. Variabel ini adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel ini juga disebut variabel sebab. Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah penggunaan metode demonstrasi dengan alat peraga untuk meningkatkan minat dan keaktifan siswa. Sedangkan variabel terikat adalah merupakan variabel yang tergantung. Variabel terikat sering disebut variabel dependen. Variabel ini tidak bebas dan merupakan variabel akibat. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas.
C.Rencana Tindakan
Prosedur penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Adapun langkah-langkah dari masing-masing siklus sebagaimana tertera berikut ini :
a.Siklus I
Kegiatan penelitian dimulai dengan dilaksanakannya siklus I. Siklus ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Adapun tahapan pada siklus ini adalah sebagai disebut di bawah ini.
1.Perencanaan
Perencanaan ini merupakan refleksi awal dari kegiatan penelitian. Atas dasar dari hasil studi pendahuluan, maka disusun perencanaan melalui beberapa tahap. Tahap-tahap yang dilalui pada perencanaan ini adalah :
-Mendesain pembelajaran IPA tentang perpindahan energi panas dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga.
-Desain pembelajaran disimulasikan.
-Masukan dari hasil simulasi digunakan untuk merevisi desain pembelajaran berikutnya.
-Penyusunan instrumen yang diperlukan pada siklus.
2.Tindakan
Pada tahap ini, tindakan merupakan implementasi dari perencanaan-perencanaan yang telah disimulasikan dan direvisi.
Pada siklus I ini diawali dengan mengkondisikan kelas. Pertama-tama siswa diberikan apersepsi dan penjajakan kemampuan awal siswa. Tahap berikutnya siswa diberikan informasi singkat tentang materi pembelajaran yang akan dipelajari. Selain itu diberikan pula informasi tentang tujuan yang akan dicapai. Adapun pada kegiatan berikutnya guru merumuskan permasalahan yang telah ditentukan.
3.Pengamatan
Pada tahap ini pengamatan atau observasi dilakukan bersama dengan tahap tindakan. Hal ini tentu karena guru sebagai peneliti sekaligus juga sebagai penyampai materi. Pada tahap ini pula dilakukan pengumpulan data-data yang diperlukan. Tiap-tiap tindakan yang dilakukan oleh guru maupun siswa akan diamati oleh observer. Observer disini adalah guru itu sendiri sebagai peneliti beserta teman sejawat. Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah pedoman pengamatan dan lembar penilaian yang sudah disediakan digunakan dalam tahap ini.
4.Refleksi
Tahap refleksi dilakukan peneliti bersama teman sejawat. Tahap ini berisi diskusi dari peneliti sebagai guru maupun observer dengan teman sejawat. Diskusi berisi tentang kelebihan dan kekurangan tindakan. Hasil diskusi ini digunakan untuk menentukan sikap yang harus dilakukan pada siklus berikutnya. Pada tahap ini dilakukan pula analisis data. Analisis ini untuk mengetahui keberhasilan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian dapat ditentukan apakah diperlukan siklus berikutnya atau tidak.
b.Siklus II
Pada siklus II dilakukan satu kali pertemuan yaitu 2 x 35 menit.
1.Perencanaan
Atas dasar temuan pada siklus I maka dibuatlah rencana untuk melaksanakan siklus II. Siklus ini merupakan penyempurnaan siklus I. Perbedaan yang mungkin ada pada siklus II yaitu diperolehnya laporan hasil pengamatan secara utuh.
Pada tahap perencanaan ini peneliti sebagai guru membuat seperangkat pembelajaran sebagaimana siklus I.
2.Tindakan
Sesuai dengan rancangan pembelajaran, pada siklus II ini dilakukan tindakan sebagaimana yang ada pada rencana mengajar harian. Hal ini sama dengan yang dilakukan pada siklus I. Namun pada siklus II penerapan metode demonstrasi dengan alat peraga benar-benar diusahakan untuk meningkatkan hasil belajar, minat dan keaktifan siswa pada pelajaran IPA tentang perpindahan energi panas.
3.Pengamatan
Setelah melakukan tindakan, peneliti melakukan pengamatan pada setiap perubahan perilaku yang dialami siswa. Pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan membuat catatan-catatan penting. Hal ini sebagaimana dilakukan pada siklus I. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan pedoman pengamatan dan lembar penilaian.
4.Refleksi
Peneliti kembali melakukan refleksi setelah melakukan tindakan dan pengamatan. Refleksi dilakukan terhadap hasil yang didapat sebelum siklus II ini. Tujuan refleksi adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa tentang perpindahan energi panas, untuk dapat dibandingkan dengan hasil setelah siklus II.
D.Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Pada penelitian ini penulis memilih tiga teknik pengumpulan data. Ketiga teknik tersebut adalah tes, observasi dan dokumentasi.
a.Teknik Tes
Pada penelitian ini digunakan tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA yang dilaksanakan selama proses penelitian.
b.Metode Observasi
Dalam mengamati kemampuan siswa pada saat mengikuti proses pembelajaran IPA tentang perpindahan energi panas digunakan metode observasi. Dalam penelitian ini yang diamati adalah minat dan keaktifan siswa.
c.Metode Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk menyelidiki benda-benda tertulis. Benda-benda tersebut diantaranya adalah buku-buku dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. Jadi dokumen-dokumen yang diteliti pada penelitian ini adalah buku daftar nilai siswa kelas III tahun 2008/2009 dan kelas IV tahun pelajaran 2009/2010 SD Kasepuhan 05 Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.
Sedangkan alat pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga jenis. Ketiga jenis alat pengumpul data adalah sebagaimana tersebut di bawah ini.
a.Butir Soal Tes
Butir-butir soal tes merupakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini. Instrumen ini berupa tes hasil belajar tentang perpindahan energi panas.
b.Lembar pengamatan
Lembar pengamatan digunakan untuk mengamati perilaku siswa. Pengamatan dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung dan pada akhir proses pembelajaran.
c.Skala Penilaian untuk Studi Dokumentasi
Pada penelitian ini dilakukan studi dokumentasi. Studi dilakukan terhadap buku siswa, sedangkan yang menjadi cakupan studi adalah buku daftar nilai kelas III tahun pelajaran 2008/2009 dan kelas IV tahun pelajaran 2009/2010 SD Kasepuhan 05, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.
E.Indikator Kerja
Sebagai sebuah penelitian tindakan kelas perlu adanya indikator. Indikator digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari penelitian. Apabila indikator terpenuhi, penelitian dikatakan berhasil. Adapun indikator Penelitian Tindakan Kelas dibedakan dalam dua kelompok.
a.Indikator Umum
Indikator umum dari penelitian ini adalah sebagaimana disebut di bawah ini
1.Guru dapat mengelola pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.
2.Guru dapat membuat aktivitas pembelajaran siswa meningkat.
b.Indikator Khusus
Atas dasar hasil pembelajaran sebelum diupayakan peningkatan hasil belajar IPA tentang perpindahan energi panas pada siklus I dengan hasil rata-rata di bawah 75 %. Maka indikator kinerja setelah tindakan pada siklus II diharapkan meningkat menjadi lebih dari 75%. Jadi persentasi ketuntasan belajar IPA tentang perpindahan energi panas diharapkan mencapai 75 % keatas.
F.Teknik Analisis Data
Pada penelitian dilakukan juga analisis data karena analisis data merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Hal ini perlu dilakukan karena analisis data yang diperoleh pada penelitian memberi arti penting. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis deskriptif komparatif. Digunakannya analisis deskriptif komparatif sebab untuk membandingkan nilai tes antar siklus dan indikator kerja.
Dilakukannya analisis data semenjak awal sampai akhir proses penelitian. Karena hal ini merupakan kesatuan yang tak terpisahkan antara tahap pengumpulan dan analisis data. Dalam menganalisis data dilakukan juga dengan metode deskriptif persentase. Sedangkan data hasil observasi dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi.
Mengajar bertujuan agar siswa dapat belajar sebaik – baiknya apabila sarana belajar lengkap sehingga memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik. Mereka belajar sepenuhnya dengan media yang sudah ada sebagai alat bantu pembelajaran agar siswa dapat belajar dengan sebaik mungkin.
Guru dalam menggunakan media harus terampil. Media yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah kelereng, akan tetapi kenyataan banyak siswa yang minat tetapi kurang motivasi pada saat pembelajaran matematika. Siswa lebih suka bermain atau berbicara dengan temanya dari pada memperhatikan alat peraga yang diperagakan oleh guru di depan kelas.
Dari paparan di atas didasarka observasi yang dilakukan di SDN Lebo 02 kelas I Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang. Berdasarkan data hasil ulangan harian sebagian besar siswa mendapat nilai rendah, dari 25 siswa yang dapat menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan hanya 20 %. Dari hasil ulangan harian nilai mata pelajaran matematika sangat memperhatinkan, karena berdasarkan data nilai yang diperoleh siswa yang mendapat nilai tertinggi 80, nilai terendah 20 dari seluruh siswa diperoleh rata – rata 48,8.
Pengamatan PBM matematika adalah pengamatan awal, selanjutnya pengamatan akan lebih difokuskan lagi dilihat kelebihan dan kekurangannya. Dari pengamatan di atas disimpukan bahwa proses pembelajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan adalah :
1.Siswa kurang paham pada materi tersebut
2.Siswa kurang mampu menghitung pengurangan
3.Guru masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi bosan
4.Guru kurang menguasai materi
Atas dasar proses belajar mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan adalah rendahnya nilai ulangan harian.
Adapun cara yang harus dilaksanakan adalah dengan menggunakan model bermain kelereng dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan diharapkan hasilnya lebih meningkat.
B.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalh di atas, masalh penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.Apakah dengan menggunakan model bermain kelereng dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan ?
2.Bagaimanakah hasil penerapan model bermain kelereng dalam pemahaman menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan?
C.TUJUAN PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan :
1.Menerapkan model bermain kelereng dengan untuk meningkatkan kemampuan menghitung untuk menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
2.Mengetahui peningkatan hasil pemahaman dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
D.MANFAAT PENELITIAN
Bagi Siswa :
1.Agar dapat member suasana dan tantangan baru sehingga siswa lebih berminat dan senang mengikuti pembelajaran.
2.Agar siswa aktif belajar menghitung untuk menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan menggunakan model bermain kelereng.
3.Model bermain kelerengdapat digunakan siswa sebagai alternative untuk memecahkan masalah seperti meneyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
Bagi Guru :
1.Menambah pengalaman dan tantangan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang aktif dan kreatif
2.Agar dapat menerapkan model bermain kelereng dalam pengajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
3.Agar dapat memanfaatkan kelereng sebagai model evaluasi
Bagi Sekolah :
1.Untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa