Jumat, 19 Maret 2010

SRI WAHYUNI, NIM : 282009060 PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

NAMA : SRI WAHYUNI KELAS : BATANG 3 (C)

NIM : 28 2009 060

A. JUDUL PENELITIAN

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDESKRIPSIKAN BINATANG DENGAN BAHASA TULIS MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BINATANG PADA SISWA KELAS II SDN KALISALAK BATANG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

B. MATA PELAJARAN DAN BIDANG KAJIAN

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Bidang Kajian : Pembelajaran Inovatif

C. PENDAHULUAN

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilam dalam mempelajari semua bidang studi (BNSP, 2006). Untuk berbahasa dengan baik dan benar, maka diperlukan pendidikan dan pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada siswa di sekolah. Oleh karena itu pemerintah membuat kurikulum bahasa Indonesia yang wajib untuk diajarkan kepada siswa pada setiap jenjang pendidikan, yakni dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).

Kesulitan siswa dalam menulis biasanya terlihat ketika siswa diminta untuk menulis sebuah karangan sederhana, mendiskripsikan suatu benda ataupun ketika menulis puisi, mereka sering mengeluh dan terlihat bingung dengan apa yang ingin mereka tulis. Kebosanan, kejenuhan, serta kebingungan siswa dalam hal menulis yang mengakibatkan menurunnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran menulis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Kurangnya minat siswa terhadap kegiatan menulis

2. Kurangnya motivasi siswa, baik dari dalam diri mereka maupun dari lingkungan belajar.

3. Pengembangan strategi pembelajaran yang kurang membangkitkan daya imajinasi siswa dan kreatifitas siswa dalam berbahasa maupun bersastra.

4. Media yang digunakan dalam pembelajaran yang kurang sesuai sehingga siswa kurang bersemangat dalam belajar.

Menurunnya prestasi belajar siswa dapat dibuktikan dengan hasil tes pada mata pelajaran Bahasa Indonesia aspek menulis pada tanggal 18 Februari 2010, dengan tujuan pembelajaran mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis menggunakan media gambar yang dilaksanakan pada siswa kelas II SDN Kalisalak Batang. Dari tes tersebut diperoleh hasil tulisan siswa belum sempurna, karena penggunaan katanya belum tepat dan kalimatnya cenderung diulang-ulang sehingga tidak mudah untuk dipahami. Perolehan nilai rata-rata kelas yang seharusnya mencapai angka di atas 70, pada kenyataannya hanya mencapai angka 65, sehingga hanya 27% siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bahasa Indonesia dalam aspek menulis untuk kelas II semester II SDN Kalisalak Batang. Dengan permasalahannya yang telah diuraikan sebelumnya, maka guru harus mengambil tindakan, yakni dengan mencari dan menggunakan suatu pendekatan atau model pembelajaran yang efektif, inovatif, dan beroperasi memperbaiki pembelajaran menulis, sehingga meningkatkan minat, motivasi, dan sikap siswa terhadap pembelajaran menulis yang berakibat pada meningkatnya prestasi belajar siswa. Dengan demikian guru dapat merancang suatu bentuk pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan melalui pendekatan kontekstual dengan media gambar sebagai media alternatif dalam pemecahan masalah tersebut.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Diknas, 2002 : 1). Media gambar dimaksudkan untuk memudahkan siswa dalam mendeskripsikan seekor binatang dengan bahasa tulis. Media gambar digunakan dalam penelitian ini karena pola berpikir siswa kelas II yang masih memerlukan media pembelajaran yang konkrit. Dengan kedua hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis.

D. RUMUSAN MASALAH DAN RENCANA PEMECAHAN MASALAH

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah :

a. Apakah melalui pendekatan kontekstual dengan menggunakan media gambar binatang dapat meningkatkan keterampilan kelas II SDN Kalisalak Batang dalam mendeskripsikan binatang yang ada disekitar dengan bahasa tulis?

b. Apakah melalui pendekatan kentekstual dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam pembelajaran ?

c. Bagaimana keterampilan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual?

2. Rencana Pemecahan Masalah

Masalah rendahnya pestasi belajar siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam mendeskripsikan binatang di sekitar dengan bahasa tulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ditindaklanjuti oleh guru dengan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam hal ini, siswa diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis menggunakan media gambar binatang. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tersebut dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) tersebut, dilakukan dengan suatu pembelajaran yang inovatif dan diyakini dapat meningkatkn prestasi belajar siswa kelas II SDN Kalisalak Batang. Pembelajaran inovatif dalam penelitian ini menggunakan pendekatan konstektual (Contextual Teaching and Learning), dengan media berupa gambar binatang sebagai media dalam pembelajaran individu (siklus I), puzzel (potongan gambar) seekor binatang sebagai media dalam pembelajaran berbasis kelompok (siklus II), puzzel (potongan gambar) beberapa binatang dalam satu lingkungan tempat hidupnya sebagai media untuk pembelajaran berbasis kelompok (siklus III). Ketiga media yang digunakan dalam PTK tersebut untuk merangsang keaktifan siswa dalam bertanya jawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan gambar, serta untuk meningkatkan kreatifitas siswa dalam menyusun puzzel. Selain itu juga sebagai alat bantu dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam mendeskripsikan binatang dalam bentuk tulisan. Dengan penelitian tindakan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dengan nilai rata-rata kelas dalam pencapaian tujuan tersebut di atas 70 dan dalam pembelajaran menulis setiap siswa diharapkan dapat memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bahasa Indonesia aspek menulis kelas II semester II yang telah dibuatkan dan ditentukan oleh SDN Kalisalak Batang, yakni 70.

E. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk :

a. Mengungkap suatu pendekatan atau model serta media pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis.

b. Mengungkapkan suatu pendekatan atau model pembelajaran serta media yang dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam pembelajaran. Mengetahui peningkatan keterampilan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

F. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoretis

Secara Teoritis, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki mutu pembelajaran menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II semester II dengan menggunakan media gambar binatang melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar bahasa Indonesia, khususnya dalam aspek menulis. Dengan demikian, siswa dapat menyukai kegiatan menulis dan dapat mengembangkan kreativitas siswa dalam sebuah tulisan imajinatif yang dapat dinikmati oleh orang lain.

b. Bagi Guru

Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru, yakni dapat memberikan pengalaman dan wawasan bagi guru bahwa dalam membelajarkan bahasa Indonesioa pada aspek menulis, khususnya bagi siswa kelas rendah yang membutuhkan suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan rasa senang pada siswa pada saat pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat termotivasi dalam belajar dan akan berakibat pada pencapaian prestasi belajar yang maksimal dan sesuai dengan harapan.

c. Bagi Sekolah

Penelitian tindakan ini dilakukan sebagai tolak ukur dalam peningkatan dan perbaikan mutu pembelajaran menulis di sekolah.

G. KAJIAN PUSTAKA

1. Kajian Teori

a. Teori Belajar

Belajar secara umum adalah terjadinya perubahan pada diri orang belajar karena pengalaman (Prof. Dr. Max Darsono, dkk 2000:4). Sedangkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Prof. Dr. Max Darsono, dkk, 2000:24).

Pembelajaran menurut Gestalt adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).

Nina Wijaya (2007) dalam http://www.duniaguru.com, menyampaikan tentang teori Gestalt yang mengungkapkan bahwa belajar adalah perubahan perilaku individu yang terjadi melalui pengalaman.

b. Pembelajaran Bahasa Indonesia

Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:4) dalam metodologi pengajaran bahasa Indonesia, menyebutkan bahwa bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari orang lain, memahami orang lain, menyatakan diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

Achmad Alfianto (2006) yang tersedia dalam http://www.reresearcengines.com, menyebutkan bahwa pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di Sekolah. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia diibaratkan seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.

M. Ngalim Purwanto (1997:4) juga menyebutkan ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia meliputi :

1. Penguasaan bahasa Indonesia;

2. Kemampuan memahami;

3. Keterampilan berbahasa / menggunakan bahasa untuk segala macam keperluan;

4. Apresiasi sastra;

Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:5) pembelajaran bahasa Indonesia memiliki tujuan, antara lain ;

1) Tujuan Umum

a. Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara

b. Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual (berfikir kreatif, menggunakan akal sehat, menerapkan pengetahuan yng berguna, memecahkn masalah, kematangan emosional, dan sosial)

c. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memerlukan wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

2) Tujuan Khusus

a. Tujuan khusus dalam lingkup kebahasaan

1. Siswa memahami cara penulisan kata-kata berimbuhan, kata ulang, dan tanda baca dalam kalimat

2. Siswa memahami bentuk dan makna imbuhan

3. Siswa memahami ciri-ciri kalimat berita dan kalimat perintah

4. Siswa memahami ucapan kalimat langsung dan tidak langsung

5. Siswa memahami dan dapat mengaplikasikan makna kata umum dan kata khusus.

6. Siswa memahami dan dapat menggunakan makna ungkapan dan peribahasa

7. Siswa memahami dan dapat menggunakan sinonim dan antonim

8. Siswa mampu membedakan bentuk puisi, prosa, dan drama secara sederhana dan dapat menikmatinya.

b. Tujuan khusus dalam lingkup pemahaman bahasa

1. Siswa mampu memperoleh informasi dan memberi tanggapan dengan tepat dalam berbagai hal kegiatan (mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, dan menulis)

2. Siswa mampu menyerap pengungkapan perasaan orang lain secara lisan dan memberi tanggapan yang cepat dan tepat.

3. Siswa mampu menyerap pesan, gagasan, dan pendapat orang lain dari berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan.

4. Siswa memperoleh kenikmatan dan manfaat dari mendengarkan.

5. Memahami dan dapat mengevaluasi isi bacaan dengan tepat.

6. Siswa mampu mencari sumber, mengumpulkan, dan menyerap informasi yang diperlukannya.

7. Siswa mampu menyerap isi dan pengungkapan perasaan melalui bacaan dan menanggapinya secara tepat.

8. Siswa memiliki kegemaran membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari dan membaca karya-karya sastra.

c. Tujuan khusus dalam lingkup penggunaan

1. Siswa mampu memberikan berbagai informasi secara lisan

2. Siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman dan pesan secara lisan

3. Siswa mampu mengungkapkan perasaan secara lisan

4. Siswa mampu berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain secara lisan.

5. Siswa memiliki kepuasan dan kesenangan berbicara

6. Siswa mampu menuangkan pengalaman dan gagasannya secara lisan tertulis dengan jelas

7. Siswa mampu mengungkapkan perasaan secara tertulis dengan jelas

8. Siswa mampu menuliskan informsi sesuai dengan konteks keadaan

c. Menulis

Menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan catatan atau infomasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (Wikipedia Indonesia, 2006) yang tersedia dalam http://id.wikipedia.org. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus-menerus (Dawson, dkk, dalam Nurchasanah 1997:68). Secara garis besar, menulis adalah bentuk dari komunikasi yang membutuhkan keterampilan agar menghasilkan tulisan yang baik.

Menurut Johana Pantaw, dkk (2002) yang tersedia dalam http://digilib.itb.ac.id mengatakan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh orang yang menggunakan bahasa atau yang mempelajari suatu bahasa. Dengan menulis seorang anak dapat membenamkan diri ke dalam proses kreatif, yakni anak dapat menciptakan sesuatu yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan pemecahan (Puji Arya Yanti, 2007) yang tersedia dalam http://www.sabda.org.

Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar siswa mampu megungkapkan gagasan, pendapat, pengetahuan secara tertulis serta memiliki kegemaran menulis (Depdikbud, 1997).

Puji Arya Yanti (2007) http://www.sabda.org, menyebutkan bahwa dengan kegiatan menulis anak dapat memperoleh manfaat, antara lain :

1) Anak dapat menyatakan perasaanya tentang apa yang dialami dalam bentuk tulisan

2) Anak dapat menyatukan pikiran ketika menuangkan ide dengan kata-kata

3) Anak dapat menunjukkan kasih kepada sesama, misalnya dengan menulis surat ucapan terima kasih atau ulang tahun kepada orang tua, teman, bahkan guru.

4) Anak dapat meningkatkan daya ingat dengan cara membuat dan menulis informasi tentang sesuatu.

d. Menulis Deskripsi

Menulis deskripsi dapat dilakukan dengan cara menuliskan kalimat-kalimat deskripsi dari gamba-gambar yang mereka miliki. Kegiatan menulis deskripsi ini dapat merangsang anak untuk mengungkapkan suatu bentuk / benda yang dipahami anak melalui tulisan (Puji Arya Yanti, 2007) http://www.sabda.org.

Anak-anak dapat diminta untuk menulis kalimat-kalimat deskripsi dari gambar-gambar (sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan) yang dipasangkan di kelas. Untuk me-review, anak-anak dapat diminta untuk memasangkan kalimat-kalimat itu sesuai dengan gambar-gambar tersebut. Sebagai kreasi dalam pelajaran, anak-anak dapat menulis deskripsi tentang binatang-binatang dan memasangkannya dengan foto binatang yang tersedia (PEPAK SABDA, 2002) yang tersedia dalam http://pepak.sabda.org.

e. Media Gambar

Purwanti dan Eldarni (2004:4) dalam Wijaya Kusuma (2007) yang tersedia dalam http://wijayalabs.blogspot.com, mengungkapkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengiriman pesan ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses pembelajaran.

Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997:16) dalam Wijaya Kusuma (2007) yang tersedia dalam http://wijayalabs.blogspot.com, yaitu :

1) Gambar diam, baik dalam teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyector.

2) Gambar gerak, baik hitam putih maupun berwarna baik bersuara maupun yang tidak bersuara.

3) Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun dalam piringan hitam

4) Televisi

5) Benda-benda hidup simulasi maupun model

6) Instrisional berprogram ataupun CAI (Computer Assisten Instruction)

D. Syahrudin (2007) dalam penelitiannya yang tersedia pada http://ind.sps.upi.edu mengungkapkan bahwa :

a. Media gambar dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan di sekolah dasar.

b. Penggunaan media gambar dalam pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar, dan dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dalam berimajinasi dan berekspresi.

c. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar adalah keterbatasan waktu, karena pada umumnya guru sekolah dasar mengajarkan beberapa bidang studi dalam satu kelas.

f. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Leraning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Dikdas, 2002:1).

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari suatu konteks ke konteks lain. Pengalaman awal siswa merupakan material yang sangat berharga. Pengalaman awal ini dapat tumbuh dan berkembang dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Dengan layanan guru yang memadai melalui berbagai bentuk penugasan, siswa belajar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah (problem-based learning) dan saling menghargai sehingga hubungan antar siswa akan lebih harmonis. Siswa yang merasa “kurang” dapat belajar bersama-sama siswa yang pandai mengerjakan dan mempertanggungjawabkan proyek yang ditugaskan (Zaenuri Mastur, 2004) dalam http://www.suaramerdeka.com.

Menurut Dr. Zolazlan Hamidi (2001) dalam http://www.tutor.com.my, kaidah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Leraning) adalah proses pembelajaran yang merangkumkan contoh yang diterbitkan daripada pengalaman harian dalam kehidupan pribadi masyarkat serta profesi dan menyajikan aplikasi hands-on yang konkrit (nyata) tentang bahan yang akan dipelajari.

Dikdasmen Dikdas (2002:10-19), menyebutkan bahwa ada 7 (tujuh) unsur yang harus ada dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

1) Contructivisme, artinya bahwa dalam pembelajaran konteksual harus dapat membangun dan membentuk konsep atau pengetahuan baru.

2) Inquiry, artinya bahasa dalam pembelajaran kontekstual harus ada penemuan suatu konsep atau pengetahuan baru dari proses yang dilakukan sendiri oleh siswa.

3) Questioning, dalam pembelajaran harus muncul banyak pertanyaan untuk mengiringi siswa dalam menentukan konsep baru.

4) Modeling, dalam pembelajaran kontekstual harus ada contoh atau model yang dijadikan dalam pembelajaran tersebut khususnya bidang keterampilan.

5) Community Leraning, dalam pembelajaran kontekstual harus dapat diciptakan masyarakat belajar. Dalam hal ini siswa belajar dalam bentuk kelompok untuk melakukan kerja sama.

6) Reflection, artinya bahwa konsep pengetahuan yang telah ditemukan dapat diefleksikan agar memiliki makna dalam kehidupan siswa.

7) Authentic Assessment, pembelajaran kontekstual harus dinilai berdasarkan kenyataan yang ada (proses dan hasil) melalui berbagai macam alat dan jenis penilaian.

g. Hasil Penelitian Terdahulu

D. Syarifudin (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Prosa” yang tersedia dalam http://ind.sps.upi.edu mengungkapkan bahwa :

a. Media gambar dapat meningkatkn keterampilan siswa dalam menulis karangan di sekolah dasar.

b. Penggunaan media gambar dalam pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar, dan dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dalam berimajinasi dan berekspresi.

c. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar adalah keterbatasan waktu, karena pada umumnya guru sekolah dasar mengajarkan beberapa bidang studi dalam satu kelas.

Dalam http://flachintya23.wordpress.com yang diakses 10 Maret 2008, menyatakan bahwa untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi dapat dilakukan dengan menggunakan strategi menulis terbimbing. Strategi tersebut menekankan pada aktivitas pembelajaran menulis secara berkolaborasi atau kerjasama di mana semua siswa mendapat bagian (Farris, 193). Penelitian Jubaidah (2004) menemukan fakta bahwa dengan strategi kelompok dinyatakan dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi.

Sri Purwaningtyas (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pendekatan Kontekstual (CTL) Terhadap Keterampilan Menulis Deskripsi” yang tersedia dalam http://pasca.uns.ac.id, mengungkapkan tentang keberhasilan penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa pembelajaran menulis deskripsi dengan pendekatan kontekstual menghasilkan keterampilan menulis deskripsi siswa yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran menulis deskripsi dengan pendekatan konvensional.

2. Hipotesis Tindakan

Melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) menggunakan media gambar yang dilaksanakan dalam siklus 1, 2, dan 3, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN Kalisalak Batang dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis.

H. METODE PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classromm-based action research) dengan peningkatan pada unsur desain untuk memungkinkan diperolehnya gambaran kefektifan tindakan yang dilakukan.

a. Perencanaan Awal

a) Merasakan adanya masalah

b) Analisis masalah

c) Perumusan masalah

b. Perencanaan Tindakan

a) Membuat skenario pembelajaran

b) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan kelas.

c) Mempersiapkan instrument untuk mereka dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.

d) Melaksanakan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanan rancangan.

c. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan yang meliputi siapa yang melakukan apa, kapan, di mana dan bagaimana melakukannya. Skenario tindakan yang telah direncanakan, dilaksanakan dalam situasi yang aktual. Pada saat yang bersamaan kegiatan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interprestasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi

d. Observasi

Pada bagian pengamatan, dilakukan perekaman data yang meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan. Tujuan dilakukannya pengamatan adalah untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi.

e. Refleksi

Pada bagian refleksi dilakukan analisis mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai dan dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan.

Sri Rahayu 282009051Tugas Proposal PTK

NAMA : SRI RAHAYU

NIM : 282009051

KELAS : C (BATANG 3)

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

JUDUL PENELITIAN :

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SAINS

TEMA GEJALA ALAM MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CTL)

PADA SISWA KELAS I SD NEGERI DENASRI WETAN 03 BATANG.

BAB 1. PENDAHULUAN.

1. Latar Belakang

SAINS merupakan mata pelajaran yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga SAINS bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan SAINS diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangannya lebih lanjut dalam menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran SAINS sebaiknya dilaksanakan dengan cara pemberian pengalaman belajar secara langsung. Dalam hal ini siswa diarahkan untuk belajar secara inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pada dasarnya mata pelajaran SAINS dianggap sebagai mata pelajaran yang mudah, karena konsep-konsep materi ajarnya berhubungan dengan alam sekitar. Oleh karena itu, pembelajarannya juga melibatkan lingkungan yang ada sekitar baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan konsep pembelajaran yang alamiah, secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, karena siswa cepat menguasai konsep-konsep pada hampir semua materi ajar, seperti yang terjadi pada siswa kelas I SDN Denasri wetan 03 Batang. Siswa dapat belajar SAINS dengan mengambil contoh-contoh sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagian besar siswa kelas I dapat dikatakan berhasil menguasai konsep-konsep dalam mata pelajaran IPA pada semester II ini, karena nilai rata-rata 7,0 dapat diperoleh oleh hampir semua siswa pada setiap materi yang diajarkan. Akan tetapi dengan seringnya siswa memperoleh nilai baik, dapat membuat siswa meremehkan mata pelajaran SAINS, karena sebagian siswa menganggap bahwa dirinya sudah bisa. Dengan kondisi tersebut dan jika dibiarkan terlalu lama dikhawatirkan prestasi belajar siswa menurun.

Dengan permasalahan yang terjadi, maka guru harus memberikan motivasi-motivasi sehingga membangkitkan dan meningkatkan kembali minat siswa pada mata pelajaran SAINS di kelas I dalam hal ini guru harus mencari dan menggunakan pendekatan dalam pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga siswa tetap tertarik dalam pembelajaran SAINS. Sesuai dengan mata pelajaran SAINS yang bersifat alami, maka guru dapat menggunakan pendekatan kontekstual.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning (CTL)) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran dengan konsep pembelajaran disesuaikan dengan kondisi siswa. Dalam pembelajaran ini, siswa mengalami sendiri, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Dengan pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa kelas I SDN DENASRI WETAN 03 Batang pada mata pelajaran SAINS.

2. RUMUSAN MASALAH.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning (CTL)) dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa kelas I SDN Denasri Wetan 03 Batang?

  1. Apakah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning (CTL)) dapat

meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa kelas I SDN Denasri Wetan 03

Batang pada mata pelajaran SAINS?

2. Rencana Pemecahan Masalah

Masalah rendahnya minat siswa pada mata pelajaran SAINS dapat diminimalisir dengan menggunakan suatu pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran. Dalam hal ini dapat menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning (CTL)). Dengan pendekatan tersebut dapat membangkitkan dan meningkat motivasi, minat, dan sikap siswa dalam mata pelajaran SAINS.

Penerapan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning (CTL))

dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar,langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Konstriktivisme (Constructivisme)

Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih

bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan

mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2. Menemukan (Inquiry)

Guru harus merancang kegiatan pembelajaran yang merajuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkan.

3. Bertanya (Questioning)

Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan kegiatan bertanya.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Menciptakan masyarakat belajar dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen.

5. Pemodelan (Modeling)

Guru menghadirkan model sebagai contoh atau media dalam pembelajaran.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan pada akhir pertemuan, misalnya dengan mencatat hal-hal yang telah dipelajari diskusi, maupun hasil karya.

7. Autentik Asesmen (Authentic Assessment)

Melakukan authentic assessment (penilaian sebenarnya) dengan berbagai cara, baik dalam proses maupun hasil sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran.

Dari langkah-langkah di atas diharapkan siswa dapat termotivasi

dan semakin berminat bahkan menyukai mata pelajaran SAINS karena

dalam pembelajarannya penuh dengan variasi.

3. TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk :

a. Mengungkapkan pendekatan yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas I SDN 03 Denasri Wetan 03 Batang pada mata pelajaran SAINS.

b. Mengungkapkan suatu pendekatan yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa kelas I SDN Denasri Wetan 03 Batang pada mata pelajaran SAINS.

4. MANFAAT

a. Bagi siswa.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi

siswa dalam Pembelajaran dan dapat meningkatkan motivasi

belajar siswa dalam pembelajaranSAINS sehingga terbentuk

lingkungan belajar yang lebih hidup dan bermakna.

b. Bagi guru.

penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru, yakni dapat

memberikan pengalaman dan wawasan bagi guru bahwa dalam

pembelajaran, khususnya bagi siswa kelas rendah membutuhkan

pendekatan pembelajaran yang dapat memberikan rasa nyaman dan rasa senang pada siswa. Sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran SAINS.

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

1. Kajian Teori

SAINS merupakan mata pelajaran yang diperlukan dalam

kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kehidupan manusia melalui

pemecahan-pemecahan masalah yang dapat diidentifikasi (BNSP,

2006). Oleh karena itu pembelajaran SAINS menggumakan konsep

pembelajaran yang alamiah.

Dalam pembelajaran IPA diperlukan motivasi, rangsangan dan

dorongan yang dapat membangkitkan gairah dan minat siswa

terhadap mata pelajaran tersebut.

Hal-hal yang dapat memotivasi siswa dalam belajar antara lain :

1. Anak yakin bahwa apa yang dipelajari akan bermanfaat bagi

dirinya.

2. Situasi belajar yang menyenangkan.

Menurut M.Sobry Sutikna, motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu demi tercapainya tujuan. Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “ feeling”

dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

Nasution (1992) mengungkapkan pengertian motivasi belajar, yaitu kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Sedangkan Nurhayati (1999, dalam Maulana,2002) berpendapat bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan atau usaha untuk menciptakan situasi, kondisi, dan aktifitas belajar , karena didorong adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan dalam diri individu untuk mencapai tujuan tertentu. Otivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu tanpa ada paksaan dari orang lain. Tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah jenis motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar diri individu atau motivasi yang timbul karena pengaruh dari lingkungan.

Motivasi sangat menentukan hasil belajar siswa, oleh karena untuk membangkitkan kembali minat siswa terhadap mata pelajaran SAINS, maka seorang guru harus terlebih dahulu membangkitkan motivasi belajar siswa. Guru harus menumbuhkan kembali semangat siswa dalam belajar dan meminimalisir kejenuhan siswa terhadap mata pelajaran SAINS Dalam meningkatkan motivasi belajar anak dengan memakai pendekatan pembelajaran yang inovatif dengan sarana dan prasarana belajar yang kondusif. Dalam hal ini guru dapat menyelipkan tantangan dalam pembelajaran, sehingga siswa dapat tertantang dan mengurangi kebosanan siswa pada mata pelajaran tersebut.

Peningkatan motivasi belajar menggairahkan siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang efektif dan inovatif. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan pendekatan kontekstual

(Contextual Teaching Learning (CTL)).

Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching

Learning(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru

mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia

nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam

kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

(Depdiknas, 2002).

Menurut DR.Zolazlan Hamidi (2001),kaidah pendekatan

Kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL) adalah pros

es pembelajaran yang merangkumkan contoh yang diterbitkan dari

pada pengalaman harian dalam kehidupan pribadi masyarakat serta

profesion dan menyajikan aplikasi hands-on yang konkrit (nyata) t

tentang bahan yang akan dipelajari.

Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen, antara l

Lain :

1. Konstriktivisme (Constructivisme)

Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.

2. Menemukan (Inguiry)

Guru harus merancang kegiatan pembelajaran yang merajuk pada

Kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkan.

3. Bertanya (Questioning)

Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan kegiatan bertanya.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Menciptakan masyarakat belajar dengan pembentukan kelompak- kelompok belajar yang anggotanya heterogen.

5. Pemodelan (Modeling)

Guru menghadirkan model sebagai contoh atau media dalam pembelajaran.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan pada akhir pertemuan, misalnya dengan mencatat hal-hal yang telah dipelajari diskusi, maupun hasil karya.

7. Autentik Asesmen (Authentic Assesment)

Melakukan authentic assesment (penilaian sebenarnya) dengan berbagai cara, baik dalam proses maupun hasil sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran.

Pembelajaran dngan pendekatan kontekstual bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditranfer) dari suatu persalahan ke permasalahan lain, dari suatu konteks ke konteks lain (Suara Merdeka,16 Februari 2004).

Pendekatan kontekstual sangat cocok digunakan dalam mata pelajaran sains karena dalam hal ini kaidah kontekstual lebih bertumpu pada usaha guru sebagai pembimbinh (fasitator) yang membimbing siswa ke arah pembentukan daya pikir siswa melalui kegiatan – kegiatan pembelajaran yang bersifat alamiah yang bersumber dari pengalaman siswa.

Dengan pengalaman siswa yang tumbuh dari lingkungan keluarga

Maupun masyarakat sekitar merupakan material yang sangat berharga, dan dapat dikembangkan dalam pembelajaran.

Dengan kegiatan pendekatan kontekstual tersebut,diharapkan dapat mengurangi rasa jenuh siswa terhadap mata pelajaran SAINS.

Dengan kurangnya atau bahkan hilangnya rasa jenuh siswa terhadap mata pelajaran SAINS maka dapat membangkitkan kembali minat siswa terhadap pembelajaran SAINS.

2. Hipotesis Tindakan

Dengan pendekatan kontekstual atau Conteztual Teaching Learning (CTL), diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas I SDN Denasri wetan 03 pada mata pelajaran SAINS.

BAB .III. METODE PENELITIAN.

1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classromm- based action research) dengan peningkatan pada unsur desain untuk memungkinkan diperolehnya gambaran keefektifan tindakan yang dilakukan.

a. Perencanaan Awal

Guru (peneliti) merencanakan kegiatan penelitian tindakan

Kelas dengan menentukan kegiatan serta pendekatan yang akan di

laksanakan . Pada perencanaan awal ini, guru mengidentifikasi ma

salah yang terjadi di kelas serta menentukan suatu penyelesaiannya

dengan menggunakan metode pembelajaran, maupun pendekatan

pembelajaran tertentu.

b. Perencanaan Tindakan

Guru (peneliti) membuat Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman dan acuan dalam

pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

Guru (peneliti) membuat jadwal perencanaan tindakan kelas, dan

mempersiapkan alat peraga atau media yang diperlukan dalam

penelitian.

c. Pelaksanaan Tindakan

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan sesuai dengan waktu

yang telah direncanakan . Penelitian dilaksakan oleh guru kelas

dan dapat bekerja sama dengan guru lain yang terbentuk dalam

satu tim agar hasilnya lebih maksimal.

d. Observasi

Observasi merupakan kegiatan pengamatan/penampilan

data untuk mengetahui seberapa jauh efek tindakan. Observasi

dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.

e. Refleksi

Guru (peneliti) mengadakan refleksi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa terhadap peneliti yang telah dilaksanakan sebagai pedoman atau dalam pelaksanaan siklus berikunya.

Daftar Pustaka

Depdiknas, 2002. Pendekatan Kontekstual (Contektual Teaching Learning (CTL)).

Jakarta : Depdiknas.

Aqib, Zainal, 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.

Mastur, Zainuri, 2004. Model Pembelajaran Lingkungan, (Online),

(http://www.suara merdeka.com, diakses 6 Oktober 2009)

Depdiknas, 2007. Motivasi Belajar Kuat, Prestasi Meningkat, Meningkatkan Motivasi

Belajar Anak/Siswa. Artikal Les Privat FSQ, (Online),

(http://lesprivatfsq.blogspot.com, diakses 13 Oktober 2009)

Sutikno, M. Sobry, 2007. Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa,

(Online), (http://www.bruderfic.or.id, diakses 13 Oktober 2009)

SITI NURYATI, NIM : 282009108, Tugas Proposal PTK

PROPOSAL PTK
A- JUDUL : MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MELALUI MEDIA KARTU HURUF PADA SISWA KELAS I SDN SAMBONG 03
TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010


BABI I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar di kelas satu adalah kemampuan siswa dalam membaca.
Pada kenyataannya selama ini siswa yang msuk di kelas satu belum semuanya mampu membaca. Rata-rata 60% sudah mampu membaca, 30% membca kurang lancar dan 10% belum bisa membaca sama sekali bahkan belum mengenal huruf sama sekali. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan siswa yang berbeda-beda, orang tua yang kurang mendukung dan siswa tidsak seluruhnya berasal dari TK.
Bertumpu pada kenyataan ini, untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa maka guru mengambil langkah yang memungkinkan siswa lebih tertarik dan aktif yaitu dengan menggunakan media kartu huruf. Selain itu guru merasa perlu meminta peran serta orang tua untuk membimbing siswa di rumah.

B.Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan kemampuan membaca melalui media kartu huruf pada siswa kelas I SDN Sambong 03 Tahun Pelajaran 2009 / 2010

C.Rumusan Masalah
Apakah melalui penggunaan media kartu huruf dapat meningakatkan kemampuan membaca pada siswa kelas I SDN Sambong 03 Tahun Pelajaran 2009 / 2010

D.Manfaat Penelitian
Bagi siswa, untuk meningkatkan kemampuan membaca
Bagi guru, untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajran menggunkan kartu huruf.
BABI II
KAJIAN PUSTAKA


A.Landasan Teori
1.Kemampuan Membaca
Kemampuan membaca merupakan kemampuan siswa untuk mengucapkan symbol-simbol huruf baik secara tunggal maupun dirangkai antara symbol-simbol satu dan lainnya yang mengandung arti.
Kemampuan membaca yang diajarkan pada siswa Sekolah Dasar meliputi membaca permulaan dan membaca lanjutan. Membaca permulaan meliputi kegiatan pengenalan huruf, membaca satu kata, membaca kata dan membaca kalimat. Sedangkan membaca lanjutan meliputi kegiatan membaca lancar dan membaca dalam hati.

2.Media Pembelajaran
Menurut teori perkembangan Piaget, siswa Sekolah Dasar berada dalam tahap operasional konkret. Hal ini berarti pembelajaran pada siswa Sekolah Dasar akan berhasil apabila guru menggunakan benda-benda konkret. Media pembelajaran merupakan sarana pembelajaran menggunakan benda konkret yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Media pembelajaran berfungsi untuk memperjelas materi pembelajaran yang akan disampaikan guru.

3.Media Kartu Huruf
Kartu huruf adalah kartu yang ditulisi huruf-huruf tertentu.
Dalam satu kartu bisa terdapat satu huruf atau dua huruf gabungan konsonan dua vocal.
Penggunaan kartu huruf dapat dilakukan dengan cara meletakan secara berurutan beberapa kartu sehingga membentuk kata-kata yang sederhana untuk dibaca oleh siswa.

BAB III

Prosedur Penelitian
1.Subjek
Berdasarkan judul penelitiannya yaitu meningkatkan kemampuan membaca melalui media kartu huruf, pada siswa kelas I SDN Sambong 03 Batang. Maka subjek penelitiannya adalah siswa kelas I SDN Sambong 03 Batang Tahun Pelajaran 2009 / 2010 yang berjumlah 47 siswa.

2.Tempat Penelitian
Tempat penelitian di laksanakan di SDN Sambong 03 Batang dengan tujuan pembelajaran meningkatkan kemampuan membaca pada peserta didik.

3.Waktu Penelitian
Penelitian di laksanakan selama 3 bulan, dari bulan oktober sampai bulan Desember 2009. Adapun pembagian waktu penelitian dapat diperinci
a.Bulan Oktober : Pengajuan proposal, penyusunan rancangan penelitian.
b.Bulan Nopember : pelaksanaan siklus I, analisis hasil siklus I
c.Bulan Desember : Pelaksanaan siklus II, analisis hasil siklus II

4.Sumber Data
Sumber data diperoleh dari siswa sebagai subjek penelitian. Data yang diambil dari tes lisan. Tes lisan dilaksanakan setiap pada akhir siklus yang terdiri atas : membaca satu kata dan membaca satu kalimat.

5.Teknik dan Alat Pengumpulan Data
a.Alat Pengumpulan data : tes lisan 5 butir soal
b.Teknik pengumpulan data 
Dengan menggunakan teknik tes lisan, tes lisan dilakukan pada akhir
siklus I dan siklus II

6.Validasi Data
a.Validasi hasil belajar
Validasi hasil belajar yang ingin dicapai 60% siswa bisa membaca dengan benar.
b.Validasi Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran melalui media kartu huruf terhadap subjek penelitian siswa kelas I SDN Sambong 03

Rabu, 17 Maret 2010

SITI LESTARI (Tugas PTK Bab II, dan III)

Kepada Yth.
Bapak Mawardi
di Tempat

Saya,
Nama : Siti Lestari
NIM : 282009090
Kelas : C (Batang 3)
Mengirim Tugas PTK Bab II, dan III



BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI

Pendidikan matematika diberbagai Negara, terutama Negara-negara maju telah berkembang dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa sains dan teknologi.

Amerika Serikat telah memulai pembaharuan matematika sejak tahun 1980 (NCTM 1980) melalui suatu gerakan yang disebut “ An Agenda For Action “. Agenda ini memuat banyak rekomendasi yang terkait langsung dengan pembelajaran dan isi kurikulum. Tiga diantaranya adalah:

G.S Problem solving be the focus of school mathematics in the 1980’s , (2) Basic skills in the mathematics be defired to encompass more then computational foality dan (3) mathematic’s program take full advantage of the power of calculators and computers at all grade kids.

Model pembelajaran matematika yang berkembang didasarkan teori-teori belajar.Hakekat dari teori-teori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh-sungguh sehingga tidak keliru dalam menerapkannnya.

Teori-teori belajar itu menjadi tidak berguna jika makna dari konsep-konsep yang dikembangkan tidak dipahami dengan baik.

Jika suatu teori belajar ternyata efektif untuk membantu menolong guru menjadi lebih professional.

Untuk meningkatkan kesadaran guru bahwa mereka wajib menolong siswa mengintregasikan konsep baru dengan konsep yang sudah ada maka teori itu berharga dan patut dipertimbangkan.

Teori Thorndike yang bersifat behavioristik (mekanistik) memberi warna yang kuat perlunya latihan dan mengerjakan soal-soal matematika sehingga peserta didik diharapkan terampil dan cekatan dalam mengerjakan soal-soal matematika yang beragam.

Teori holistic merupakan teori kognitif belajar dan dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran bermakna (meaning full instruction) dari Aussbel, memberi makna perlunya atau pentingnya materi pada ajaran yang bermakna dalam proses belajar karena kebermaknaan dan menyebabkan peserta didik menjadi terkesan sehingga pembelajaran tersebut akan mepunyai masa ingatan (retention spam) yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat hapalan.

Dalam proses belajar matematika, Bruner (1982) menyatakan pentingnya tekanan pada kemampuan peserta didik dalam bersifat institutif dan analitik akan mencerdaskan peserta didik membuat prediksi dan terampil dalam menemukan pola (pattern) dan hububan atau keterkaitan (relavation).

Secara jelas Bruner menyebut tiga tingkatan yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasikan keadaan peserta didik yaitu (a)enactive (memanipulasi objek secara langsung). (b) iconic (manipulasi objek secara tidak langsung) dan (c) simbolic (manipulasi simbol).

Peggunaan berbagai objek dalam berbagai bentuk dilakukan setelah melalui pengamatan yang teliti bahwa memang benar objek itu yang diperlukan sebagai contoh bagi anak SD kelas I.

Tentu mereka dalam situasi enactive artinya matematika lebih banyak diajarkan dengan manipulasi objek secara langsung dengan memanfaatkan kerikil, kelereng, manik-manik, potongan kertas, bola, kotak, karet dan lidi, serta hindari penggunaan lansung simbol-simbol huruf dan lambang-lambang operasi yang berlebih.

B. KAJIAN HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN

William Brownel (1935) mengatakan bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bermakna ia mengemukakan bahwa belajar matematika itu harus merupakan belajar bermakna dan pengertian.

Edward L Thorndike (1874-1949) Toeri drill dalam pengerjaan matematika berdasarkan pada teori belajar asosiasi yang lebih dikenal dengan sebutan teori belajar stimulus respon.

Ruseffendi (1989,h 23) mengatakan bahwa matematika itu terorganisasikan dari unsure-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma dan dlil-dalil, dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.

C. KERANGKA BERFIKIR

Berdasarkan kajian pustaka diatas maka kerangka berfikir penelitianyya sebagai berikut : Sekolah Dasar (SD) Negeri Lebo 02 Warungasem belum termasuk sekolah favorit di wilayah Kecamatan Warungasem, sehingga siswa-siswa yang masuk ke SDN Lebo 02 rata-rata bukan lulusan TK. Dilain pihak pokok bahasan menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan.

Materi dasar untuk mempelajari pengurangan pada kenyataan siswa dituntut harus bisa. Sehingga diperlukan metode khusus dalam pembelajaran agar pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan menyenagkan.

Dengan demikian guru perlu berusahan mencari metode yang pembelajaran yang diharapkan dapat menigkatkan kemampuan berfikir siswa agar terampil untuk memecahkan soal-soal hitungan

D. HIPOTESIS TINDAKAN

Setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model bermain kelereng diduga pemahaman siswa dalam menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan siswa kelas I SDN Lebo 02 tahun pelajaran 2009-2010 akan meningkat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. SETTING DAN KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selam bulan April 2010 pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Hal ini di sebabkan karena variabel terikat yang diteliti yaitu hasil belajar matematika menyelasikan soal cerita yan mengandung pengurangan terdapat pada semester genap.

2. Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini adalah dikelas I SDN Lebo 02 Warungasem Kabupaten Batang.

B. VARIABEL PENELITIAN

Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN Lebo 02 pada tahun pelajaran 2009/2010.

C. RENCANA TINDAKAN

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Secara umum alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang digunakan oleh Kemmis dan Taggart (kasbolah,1999)

1. Tahap Perencaaan (planning)

Guru menyiapkan materi berupa buku penunjang materi pembelajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan, menyiapkan RPP, media yang digunakan kelereng.

2. Tahap Pelaksaaan Tindakan (action)

Guru menguraikan materi tentang menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan dan guru memperagakan cara menghitung dengan alat peraga kelereng. Siswa maju satu persatu untuk menghitung dengan menggunakan kelereng.

3. Tahap Pengamatan (observing)

Guru mengamati proses pendemontrasian alat peraga kelereng yan dilakukan oleh siswa selama proses belajar mengajar.

4. Tahap Refleksi (reflecting)

Guru menganalisis hasil evaluasi siswa

D. TEKNIK DAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

  1. Teknik Pengumpulan Data

Tes sebagai salah satu tehnik pengumpulan data digunakan untuk memperoleh data cerminan dari hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan. Tes yang digunakan merupakan tes hasil belajar yang berupa tes tertulis berbentuk obyektif, jenis menjawab soal cerita. Adapun materi tes yan digunakan yaitu menyelasikan soal cerita yang mengandung pengurangan.

  1. Alat Pengumpulan Data

Butir soal tes.

E. INDIKATOR KINERJA

Dengan melihat hasil ulangan pada tahun pelajaran sebelumnya, rata-rata nilai ulngan harian pada materi yang diteliti masih rendah ( < 50) maka pada penelitian ini ditetapkan indikator kerja yang digunakan adalah 60.

F. TEKNIK ANALISIS DATA

Data dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif komparatif, yaitu dengan mebandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kerja.